Air Sungai Seruyan Menyurut, Dampak Kemarau Panjang Terlihat di Jembatan Asam Baru Kuala Pembuang
Kondisi tersebut terlihat dari atas Jembatan Asam Baru. Aliran air yang tersisa tampak lebih sempit, sementara sebagian besar bagian tepian sungai berubah menjadi daratan berpasir.
Pantauan di lokasi menunjukkan permukaan air sungai mengalami penyusutan cukup terlihat.
Area tepian sungai yang biasanya terendam kini tampak lebih luas dengan hamparan pasir dan tanah yang muncul di sepanjang aliran sungai.
Kondisi tersebut terlihat dari atas Jembatan Asam Baru. Aliran air yang tersisa tampak lebih sempit, sementara sebagian besar bagian tepian sungai berubah menjadi daratan berpasir.
Situasi ini menjadi salah satu gambaran kondisi perairan saat musim kemarau. Minimnya curah hujan dalam periode yang cukup panjang dapat memengaruhi debit sungai, terutama pada wilayah yang bergantung terhadap aliran sungai untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Jembatan Asam Baru sendiri berada di jalur Trans Kalimantan yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah. Keberadaan jembatan ini juga menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat yang melintas di jalur Sampit–Pangkalan Bun.
Dengan kondisi air yang semakin menyurut, masyarakat di sekitar wilayah aliran Sungai Seruyan diharapkan tetap memperhatikan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas lainnya. Kondisi debit sungai juga perlu menjadi perhatian apabila kemarau berlangsung lebih lama.
Hingga berita ini ditulis, kondisi penyusutan air Sungai Seruyan masih terlihat jelas di sekitar Jembatan Asam Baru. Masyarakat berharap hujan segera turun sehingga debit air kembali meningkat dan kondisi perairan dapat kembali normal.
Komentar Pembaca
Sampaikan pandangan Anda dengan santun dan tetap relevan dengan topik berita.
Jadilah pembaca pertama yang menyampaikan pandangan pada berita ini.
Suka dengan Laporan Jurnalistik Kami?
Dapatkan kurasi berita penting seputar Kalimantan Tengah langsung di kotak masuk email Anda setiap pagi.